Minggu, 01 Januari 2017

2016

“Aku Memilih Pergi. Karena Aku Mencintaimu.”
21 November 2016
Barito 91

Aku tak ingin berjuang sendiri
kehabisan darah lalu mati
sementara kau bisa bebas pergi.
Aku ingin bisa memaki
hadirnya ransel penuh bahan makanan
di punggungmu.
Sementara aku harus bertahan
lewat sisa roti yang terasa terlalu keras di mulutmu.
Bolehkah kulempar granat ke hatimu?
Hanya ingin tahu
mungkinkah ia remuk, karena aku?


Dulu aku sempat percaya kita akan bahagia 


 
Aku tahu Sayang, kita begitu berbeda dalam segalanya. Aku ini penyendiri, sementara kamu wanita yang dengan mudah bisa bersosialisasi. Kamu punya banyak kawan di luar sana, sedang aku bertemu orang yang baru dikenal saja sudah panas dingin rasanya.

Tapi kamu membuatku percaya bahwa suatu hari semua perbedaan ini akan menemui muaranya. Kita akan tetap baik-baik saja.
Kubayangkan suatu hari kamu tidak akan keberatan kuajak naik kereta ke Pulau Dewata. Berbekal keril dan makanan kering seadanya. Hari itu kamu tidak takut keringat, tidak khawatir lelah. Walau punggung dan pantat pegal terhajar dudukan yang terlampau lurus, jok yang terlalu tipis. Kita akan tertawa melihat betapa kakunya kakimu terjepit diantara kursi yang sempit.

Dan kamu akan bahagia.
Pada suatu hari lainnya kamu akan mengerti cara bicaraku yang aneh. Bahwa kadang tidak berarti iya ; tidak sakit artinya sakit sekali ; terserah setara dengan dengar mauku. Kita akan berbicara banyak hal yang sama. Menggumamkan lagu yang kita gemari. Sesekali bertukar buku, barangkali.

Dan kamu akan bahagia.
Suatu hari, kita akan duduk berdampingan dengan nyaman. Merasa saling tergenapkan. Tanpa alasan, tanpa banyak usaha. Aku membuatmu cukup, kau menghormatiku sepantasnya. Kita saling menghargai, sebab tak ada alasan masuk akal untuk saling menikam pisau dalam sunyi. Akan ada puisi manis dan pesan singkat spontan yang rawan membuat kita sakit gigi.

Alih-alih tak paham, kamu, kita, akan bahagia.
Kutelan segala omong kosong soal cinta. Kuberikan semua yang aku punya


Pernah kuberikan segala yang aku punya, hanya untukmu 

Bersamamu hari perayaan tak lagi jadi hal yang signifikan. Bersamamu aku bahagia, walau harus sering bertengkar memutuskan harus makan di mana. Kamu pernah menjadikanku laki-laki paling bersyukur sedunia hanya dengan berbagi tawa berdua di beranda kemudian duduk-duduk malas sembari bermain bersama kucing kecil kesayangan kita.

Aku menerima kebiasaanmu yang suka menafsirkan orang. Kuakrabi tiap kata yang terucap, kudengar dengan penuh cinta yang kini menyisakan sembilu. Kuterima protesmu yang jengah melihatku lamban. Kunikmati semburat tangis yang tak terelakkan.

Namamu pernah begitu gigih kutasbihkan. Mengaliri  nafas tersenggal-senggal menuju puncak. Kamu sempat jadi alasanku bertahan di tengah perjalanan yang membuatku hampir mati karena kelelahan.

Menemukan lingkar tubuhmu di ujung perjuangan, di atas kasur empuk pernah jadi satu-satunya alasan aku tak berhenti berjuang.

Perjalanan keras macam itu membuatku makin mensyukurimu sebagai kenyamanan. Sayangnya kini aku hanya sedang kehilangan pijakan. Kehabisan cara meyakinkan diri sendiri untuk berjalan dan bertahan. Hingga aku habis nafas, setengah pingsan, lalu kehilangan jawaban atas tanda tanya besar,

Masih pantaskah kamu diperjuangkan?
Di depan matamu ingin kuteriakkan, “Apa yang kamu cari?” Tak sadarkah dirimu atas kehadiranku di sini?


Aku segelas air putih, sementara kamu terus mencari sebotol air zamzam 

Bagiku kamu adalah muara kehidupan, poros tengah yang membuat seluruh duniaku berputar. Tapi bagaimana dengan posisiku di matamu?

Bukankah aku hanya satu episode yang kamu nikmati sebaik mungkin, 
Mati-matian aku berkorban. Kuberikan semua yang bisa kupersembahkan. Hanya bersamamu aku pernah menjelma jadi laki laki yang mau mengerjakan apa saja, selama kau suka. Kau minta aku memasak? Aku belajar sebisanya, meski kuyakin potongan kentangku masih jauh dari sempurna.

Kau minta ku belajar merapikan rumah? Kuiyakan kemauanmu tanpa banyak bicara. Tak hanya sekali-dua kali kau temukan aku menyapu tanpa diminta,

Dalam semua tindak kecil itu, tak bisakah kau temukan setitik saja rasa cinta? Aku yang memang tak ada pesona, atau kau yang tak punya hati sebagai manusia?
Kucintai kau sebisanya, kau cintai ku sewajarnya. Dan seperti sudah kuduga sebelumnya, cinta kita punya masa kadaluarsa. Kau menganggapku sempurna, yang bisa melakukan segalanya tanpa perlu banyak usaha. 

Bohong jika kubilang aku baik-baik saja. Merindukanmu adalah bentuk hukuman Tuhan paling menyiksa

Aku tidak baik-baik saja. Di matamu, barangkali kau tetap melihatku kuat dan bahagia. Tapi setiap ujung malam, kugelung selimut agar mampu tidur dalam. Lebih dari sekali kamu menerobos masuk tanpa izin dalam impian, membuatku bangun dengan jantung berdebar kencang dan keringat yang mengocor seperti air keran.

Aku pernah jadi masokis yang suka menyiksa diri sendiri dengan mengunjungi tempat-tempat ke mana kita biasa pergi. Kubayangkan kembali betapa nyamannya jika kamu ada di sisi, mendampingi, meski hanya separuh hati. Kubuka kembali pesan-pesan lawasmu hanya demi sedikit rasa hangat di hati. Aku rela membayar apapun, dengan cara apapun, demi mendapatkannya sekali lagi.

Tapi tahukah kamu apa yang paling menyiksa dari semuanya? Kejatuhanku yang sangat dalam padamu membuatku takut tak bisa lagi jatuh cinta. Kamu sudah mengambil semuanya, padamu sudah kuberikan segalanya — tak ada sekerat pun rasa yang tersisa untuk cinta selanjutnya. Aku mati rasa, hatiku tak bisa lagi membuka.

Dalam titik-titik terlemahku sempat terucap permohonan agar diberikan amnesia. Atau matikan saja aku, tak peduli jika Tuhan mengirimku ke neraka. Merindukanmu adalah bentuk terkejam dari hukuman Tuhan — kemampuanku sebagai manusia sungguh tak seberapa untuk menghadapinya tanpa kesakitan.

Aku memilih pergi bukan karena kau tak lagi kucintai. Kini, izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri


Izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri, dalam sepi 

Kadang, kita tak bisa memilah lagi. Mana yang pantas bagimu dan bagiku. Mana yang tidak menyakiti. Dimana kita seharusnya berdiri.

Aku, memutuskan. Pergi.
Di mataku, ini bukan soal kepemilikan. 

Aku punya cara berbeda untuk menyayangimu. Pegang kata-kataku ini. Aku pergi, bukan berarti membenci. Aku cuma mau kamu tahu bagaimana pentingnya aku. Aku cuma mau kamu merasakan dunia tanpa berbagi nafas denganku. Aku ingin memberanikan diri merasakan belantara hidup tanpa lenganmu, . Supaya kita sama-sama tahu. Bahagiakah jika kau tak menyandingku? Tangguhkah aku tanpa topanganmu?

Apakah kekitaan yang takut dilepaskan itu, perlu?
Izinkan aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Aku tidak akan banyak bertanya kamu sedang apa dan sedang bersama siapa. Tak akan rewel kuminta kau menemaniku makan, atau berjalan-jalan. Akan kubuktikan aku sanggup menghadapi masa berat sendirian. Mencintaimu, berarti menangguhkan diri. Aku ingin jadi laki laki yang menguatkan. Bukan men buka lubang kelemahan.

Mencintaimu dengan berbeda, bukan berarti tidak mencintaimu sama sekali. Saat kau butuh teman diskusi, waktuku sudah pasti kau miliki. Aku tak pernah jauh, hanya sedikit menyingkir demi menjaga hati. Perhatianku jelas berjeda, tapi berarti.

Kasih sayangku pendiam, tak perlu diteriakkan lantang. Jika terlalu keras cintaku kusuarakan, justru nanti kau sakit telinga.

Dan bukankah sesuatu yang tenang dan tak lantang biasanya tak kunjung reda?

Kamis, 19 Juli 2012

Bangga

BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA
Oleh: Handrawan Nadesul

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Guru lapar masih tertawa
Anak makan tiwul lolos masuk universiti
Petani terus mencangkul meski pak camat ingkar janji
Tak menggerutu setengah hari antre cuma buat obat diare
Tak gusar berdesakan bayar listrik atau beli karcis kereta api
Sabar bikin KTP harus menunggu pak lurah pulang menjahit safari
Terima nasib punya karcis di bus berjongkok sampai pagi
Berpanas-panas di atap kereta api mereka tak sakit hati
Dicegat polisi belum tentu bersalah tidak berani marah
Merasa bernegara memang harus begini
Karena kelewat mencintai negeri ini

Bangga aku jadi rakyat indonesia
Kepada delapan puluh persen penduduk indonesia yang rajin bangun pagi
Yang tak selalu bisa pergi berobat setiap kali nyeri uluhati
Hidup adalah memikulmikul kayu bakar bukan buat sarapan nasi
Belum tentu baca koran atau nonton televisi
Tak iri orang kota masuk restoran sebulan gaji pegawai negeri
Tahu pejabat mengutil padahal duitnya lebih sepeti
Tak selalu ada makan siang namun tak memilih mencuri
Madep ngalor sugih
Madep ngidul sugih
Yakin kekayaan ada di dasar hati
Kalau mereka hanya diam karena teramat mencintai negeri seelok ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Melihat dosen bersekolah tinggi tak malu nyambi jadi sopir taxi
Profesor tak henti meneliti kendati pensiun tak cukup buat kalau sakit nanti
Guru besar rela naik KRL supaya kredit motor lekas terlunasi
Semua pasrah lowongan SMA diisi sarjana lulusan SMA jadi tukang cuci
Tak bersuara salah siapa demi ingin hidup terus terlakoni
Tak bertanya minyak dari bumi buat siapa kalau minyak tanah langka
Tak menggugat katanya gemah ripah tapi beli beras saja susah
Kalau mereka hanya termangu karena teramat mencintai bumi pertiwi ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia

Selasa, 15 November 2011

perasaan

entah bagaimana hati kucing bentuknya tapi dari beberapa hewan yang sangat istimewa kucing adalah salah satunya, suatu ketika istriku membawa kucing dari tempat yang jauh, mungkin hanya kucing biasa bukan dari ras istimewa. dari pertama dibawa kucing itu mendapatperlakuan yang istimewa dari segi makanan bahkan tempatnya. untuk 6 bulan pertama bisa dihitung kucingku berada di luar rumah sehari2 tidakpernah jauh bahkan keluar, tapi untuk bulan terakhir mulai keluar, sayang karena terbiasa dengan makanan yang dibeli di swalayan kucing itu sepertinya tidak punya insting atau naluri untuk menu dirinya diluar, hal initerlihat ketika kucingku mulaimengejar2 seekor kecoa dan mencoba memkannya. mengakibatkan tersedK dan muntah untuk 2 hari. aku mulai berfikir untuk membiasakan kucingku dihabitat luar untuk mngasah nalurinya. tapi entah aa yang dimakannya diluar kucing itu mulai muntah kembali lebih dari 2 hari dan selalu mendekat sepertinya ingin bersama dalam 3 hari kucing itu tidak mau keluar rumah dan mulai tidak makan sempat terpikir untukmembawanya ke dokter hewan, namun sebelum kubawa kucing itu dia tiba tiba berlari ke arah pintu sepertinya ingin bermain yang kebetulan pintu dalam posisi terbuka dia lari keluar dan tidak kembali. dulu pernah seorNg teman memberitahuku kucing adalah binatang istimewa ketika hidup dia selalu ingin dekat tapi kucing tahu akan waktu kematiaannya dN kucing akan selalu pergi untuk tidak mati di tempat asalnya atau tempat dimna ia bidp sebagi rumahny benarkah. semoga sja tidak karena sejujurnya aku berharap kucingku kembali....and yes i am crying over it

Senin, 07 November 2011

posting status di fb

Untuk yang mau dibuatkan silahkan wall di fb Yayan Bastian 
update status

Melalui Tulisan Yayan Bastian                                                      /Update status/
Melalui Alumni SDN Sarijadi 3 angkatan 1988                           / Update Status /
Melalui PT BINTANG PANCA SAKTI NUSANTARA           / Update Status /
Melalui Hati Dewi Bastian                                                         /Update Status /
Via Hiyam Dido heartly                                                            / Update Status /

Selasa, 06 September 2011

Mampukah....

Ketika kita bercermin pada satu permasalahan yang sering terjadi dan timbul kata sikaya makin kaya simiskin makin miskin apa sebenarnya penyebab utama semua itu?

Dalam beberapa praktek bisnis yang penulis perhatikan, sering kali terbersit fikiran "orang kaya itu adalah sebenarnya keturunan?" pada umumnya ya, bahkan ada satu penguat teori tersebut yang dikatakan bahwa jodoh orang itu tidak jauh dari pribadi dirinya sendiri, dalam hal ini kemungkinan besar kata semakin akan tumbuh dengan alami. dalam kenyataannnya jarang sekali ditemukan seorang ahli ibadah mempunyai pasangan orang sembarangan mereka selalu mencari pasangan sepadan, begitu juga orang yang memiliki kekayaan dunia biasanya mencari hal yang sepadan pula. dengan begitu orang yang kaya htinya semakin kaya dan orang yang kaya dunianyapun semakin kaya.

Tapi hal terebut diatas bukanlah suatu kemutlakan bahkan ada pula diantaranya yang berltolak belakang. dengan demikian hal tersebut bukan lah sesuatu yang tidak bisa dirubah.

Sekarang pertanyaannya adalah :

1. Mampukah seorang ahli ibadah memilih pasangan wanita dari (maaf) "nakal", Atau Pasngan laki-laki (maaf) jahat, dengan niat melakukan revolusi ahlak untuk orang yang dinikahi.

2. Mampukah Seorang kaya raya memilih pasangan yang benar-benar miskin dengan niat mengangkat derajat orang yang dinikahi.

Kalau 2 hal diatas mampu dilakukan apakah itu akan menjadi salah satu dari solusi? ataukah malah bencana?

Senin, 29 Agustus 2011

Yayan_bastian: hanya logika memilih

Yayan_bastian: hanya logika memilih: Dalam beberapa kesempatan yang telah dijalani ada beberapa peninjauan yang dilakukan serta coba untuk mencari sumber yang dapat memperjelas ...